Tim JMS Kejati Sulut Ajak Pelajar SMP 6 Bijak Gunakan Media Sosial

Serbuan konten negatif maupun hoax di internet, khususnya media sosial saat ini memang tak bisa terhindarkan. Agar para pelajar tak terpengaruh konten negatif internet, tim Penyuluhan Hukum (Luhkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut) memberikan penerangan hukum kepada pelajar SMP 6 Manado, Kamis (31/5/2018).

Tim Luhkum Kejati Sulut terdiri dari Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) Yoni E. Mallaka, SH., Kepala Seksi E pada Asintel Kejati Sulut Khathryna I. Pelealu, SH.MH, Reny Hamel, SH, Heskiel Sumombo, SH, dan Augustinus Nong.

Kegiatan ini diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan  sambutan Kepala SMP Negeri 6 Manado Susan Thomas, S.Pd. Dalam sambutannya Susan menyampaikan terimakasih kepada Tim Penyuluhan Hukum Kejati Sulut yang telah melaksanakan penyuluhan hukum di SMP Negeri 6 Manado.

“Kami menyampaikan terimakasih atas perhatian dari Tim Penyuluhan Hukum Kejati Sulut, yang boleh datang di sini untuk melaksanakan peneranganhukum Program Jaksa Masuk Sekolah. Harapan saya para siswa dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik karena kegiatan ini sangat berguna dan dapat menambah wawasan tentang hukum sehingga kelak tidak akan melanggar hukum,” ujarnya.

Sementara itu Kasi Penkum Yoni E. Mallaka, SH dalam pemaparannya menjelaskan bahwa JMS merupakan salah satu program unggulan Kejaksaan RI dalam rangka menciptakan anak-anak bangsa yang taat hukum sehingga kelak menjadi generasi penerus bangsa dan memiliki masa depan yang baik dan SMP Negeri 6 Manado adalah salah satu sekolah yang dikunjungi oleh Tim Penkum Kejati Sulut di tahun 2018.

“Tujuan kami datang kesini sambung Mallaka, adalah untuk mengenalkan hukum sejak dini kepada para siswa-siswi sehingga kelak mereka tidak akan terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum dan hal ini akan menjauhkan dari hukuman,” ujar Mallaka.

Sedangkan Kasi E Khathryna I. Pelealu, SH.MH dalam pemaparannya menjelaskan bahwa hukum itu dalam arti yang sederhana adalah aturan yang jika dilanggar ada sanksinya. Menurut Pelealu, banyak hal-hal yang melanggar hukum yang dilakukan oleh anak-anak remaja yang masih usia sekolah.

Menurut Pelealu, yang paling banyak terjadi dewasa ini adalah penyalahgunaan narkoba, menghirup lem ehabon, tawuran, penganiayaan, membawa senjata tajam seperti pisau badik dan panah wayer, percabulan, mengendarai sepeda motor tanpa SIM dan tidak mengenakan helm. Ada juga yang menjadi korban traficking (perdagangan orang) serta memposting konten-konten berupa kata-kata, video ataupun gambar yang tidak layak di media sosial.

“Saya minta supaya adik-adik yang hadir di sini tidak ada yang akan terlibat dalam hal-hal tersebut. Itu hanya akan merusak masa depan adik-adik. Oleh karena itu kepada adik-adik saya minta belajarlah dengan baik, belajarlah sekuat tenaga, buatlah orang tua dan guru  bangga dengan prestasi adik-adik,” tegas Pelealu.

Kegiatan berlangsung dengan baik, dan lancar serta dihadiri oleh sekitar 115 orang siswa-siswi. Sebelum menuju kelas masing-masing semua siswa-siswi di beri kesempatan secara bergantian untuk melihat contoh-contoh narkotika dan obat-obat terlarang melalui alat peraga yang di bawa oleh Tim Penyuluhan Hukum.

Penulis/editor : Yoni E. Mallaka